Kepulauan Seribu is one of Indonesia's marine nature conservation areas and it is located 45 km north of Jakarta.
The 78 coral islands, both large and small, with an average altitude of not more than 3 m asl, form a chain. Hundreds of years ago, the islands were formed upon colonies of dead coral. These colonies initially grew on shallow sea beds; their upper layers breached the surface and were weathered. Later, pioneer plants such as bushes and several tree species began to grow on the coral. The surface of the islands is quite different from soil-covered ground, and this is reflected in their diverse plant and animal life.

In general, the plants that grow in the Park are dominated by coastal species like coconut palm (Cocos nucifera), pandan (Pandanus sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), cangkudu (Morinda citrifolia), butun (Barringtonia asiatica), mangrove (Bruguiera sp.), sukun (Artocarpus altilis), ketapang (Terminalia cattapa), and kecundang (Cerbena adollam).
Sea vegetation commonly found in the Park consists of seaweed divisions like Rhodophyta, Chlorophyta and Phaeophyta as well as classes of sea grasses like Halimeda sp., Padina sp., Thalasia sp., Sargasum sp., and Caulerpa sp.
The dominant animals in the Park include 54 sea biota species which form part of the coral reef ecosystem, 144 species of fish, 2 species of giant clam, 6 species of sea grass, sea worms of various colours and 17 species of coastal bird.
This Park forms a hatching site for hawksbill turtle (Eretmochelys imbricata), and green turtle (Chelonia mydas). The hawksbill turtle is an endangered species and is rarely found in other waters. These turtles are bred on Pramuka Island. This activity is aimed at recovering the turtle population, which had almost reached extinction. Breeding activities include egg hatching in a semi-natural way and caring for the baby turtles till they are ready to be released into their natural habitat.
Most coastal areas of this Park are surrounded by mangrove forest, where iguanas, golden ring snakes and pythons can be found.
The Kepulauan Seribu chain is a place of enchanting natural beauty. The symphony of calls of the creatures on these small green islands, combined with the sound of thundering waves and golden sunshine at dusk bring a sense of calm and tranquillity to all those who visit the Park.
 
Kotok Island
Interesting locations/attractions:
Pramuka, Semak Daun, Kelapa, and Panggang Islands: turtle breeding, observing animals, and marine tours.
Pramuka, Opak, and Karang Congkak Islands: wreck diving.
Panjang, Putri, Pelangi, and Perak Islands: marine tours organized by a private company.
Semut, Karang Congkak, Karang Kroja, Kotok Besar, Kotok Kecil, and Gosong Laga Islands: diving and snorkelling.
Best time of year to visit: March to August.
How to reach the Park: For those wishing to take a marine tour around the islands, a boat leaves every day from the Jaya Ancol Marina. The journey time is 1-2 hours. Muara Angke-Pramuka Island, about 2.5 hours by ferry.
Nepthea sp and Oxycomanthus bennetti  
Office: Jl. Salemba Raya 9, Jakarta Pusat 10440
Tel. : +62-21-3915773
Fax. : +62-21-3103574
E-mail: tnlks@indo.net.id
Declared : Minister of Agriculture, in 1982
Designated : Minister of Forestry, SK.No. 6310/Kpts-II/2002,
a total area of 107,489 hectares
Location Province of DKI Jakarta
Temperature 21° - 34° C
Rainfall 3,000 mm/year (on average)
Altitude 0 - 2 m asl.
West season November - February
East season May - August
Geographical location 106°25' - 106°37'E; 5°23' - 5°40' S
Hari masih gelap ketika kami berempat (aku, Ijah, Salmul, dan Patrick) berjalan menuju jalan raya dan mencegat 1 taksi yang lewat. Kawasan Menara Peninsula di subuh hari yang tenang dan sepi. Karena hari yang masih pagi itu, maka kami tidak perlu berurusan dengan macetnya Jakarta yang sangat terkenal di seantero jagat raya ini (lebay*mode on). Sekitar jam 6 lebih kami tiba kembali di Muara Angke. Berasa Deja Vu karena kami datang dengan personel yang sama, dengan pakaian yang sama, dan dengan tujuan yang sama dengan sehari sebelumnya. Hari dimana kami ketiban sial hingga memunculkan cerita panjang tersendiri. Kesialan yang berujung dengan pertemanan. :)
Beruntunglah bagi orang2 yang bisa pergi pagi dini hari, karena yang jelas ongkos taxi akan lebih murah. Menara Peninsula-Muara Angke,seharga Rp.50.000,-. Di Darmaga yang sama dengan hari sebelumnya, Muara Angke, kami segera menaiki kapal yang telah bersandar dari hari sebelumnya, dan berfoto2 sebentar. Sekedar pelengkap diary kalau nantinya aku berniat menuliskannya di blog (seperti yang sekarang ini aku lakukan). Matahari mulai menampakkan sinar keemasan di belakangku, di antara gedung apartemen yang menjulang dan kapal2 tua yang bersandar di seberang pelabuhan.

Aku, Ijah, Salmul, dan Pet segera mencari tempat yang sesuai dengan selera kami, yaitu di dek atas, dan di bagian depan. Posisi yang enak untuk menikmati perjalanan, meskipun akan segera menjadi lahan yang tepat untuk berjemur. Yaaa… Panas datang dengan cepat bossss. Beruntunglah kami adalah anggota mapala yang gaul dan trendy, jadi selalu menyediakan payung cantik untuk mengantisipasi panas dan hujan. Halaaaahh….. :p
Penumpang semakin bertambah banyak saja, termasuk juga sebuah motor besar yang di ikat di bagian depan kapal. Akhirnya, kapal mulai bergerak, mencari celah untuk keluar dari persandaran, dan melaju membelah laut. Perjalanan yang cukup panjang akan kami tempuh selama kurang lebih 3 jam, dengan cukup membayar biaya Rp. 30.000 di atas kapal. Aku sangat suuuukkkaaaa…. Norak-ku jika bertemu dengan laut kumat lagi… hehehe
Beberapa ombak besar sempat kami rasakan, namun untungnya tidak sampai membuat kami terusir dari dek atas. Jumlah asupan makanan yang masuk ke perut rupanya cukup berpengaruh terhadap reaksi dari ombak yang meliuk2. Aku sedikit merasa mual karena memang nasi goreng yang aku makan saat sarapan sangat sedikit. Namun semua berlalu begitu saja karena aku berusaha sekuat tenaga untuk mengabaikan rasa mual itu. :)
3 jam kemudian, kapal kami merapat di sebuah pulau, yang pada awalnya disangka Pulau Untung Jawa oleh Ijah. Namun yang benar adalah Pulau Pramuka. Pulau inilah yang menjadi tempat tujuan kami, oleh karenanya, kami bergabung dengan para penumpang yang turun. Setelah turun dari kapal, kami berjalan ke arah kiri menuju sebuah darmaga kecil yang ada di ujung pulau. Rupanya, saat itu sedang ada rombongan yang melakukan persiapan selam di sana, sehingga kami mengurungkan diri untuk menuju kesana. Kamipun beristirahat di halaman sebuah villa. Teduh dan nyaman untuk berkemping nampaknya. hehehehe
Kemudian, datanglah seorang bapak2 yang mendekat dan menebarkan senyuman yang (kelewat) ramah. Awalnya, si bapak sepertinya mengira bahwa kami adalah anak2 muda yang sudah membuat janji dengannya (sepertinya lho).
“Lho, sudah lama atau baru datang nih?” tanyanya (sok) akrab. Kami bingung… :p
“Baru datang pak…. tapi kami belum bikin janji lho sama bapak…” kata kami. hehehhe
“Ya nggak papa….” katanya
“Ya sudah kalau nggak papa…. kita ngobrol aja kalau gitu.” kata kami hingga membuat si bapak duduk bergabung bersama kami. :p
Kamipun berkenalan dengan beliau. Namanya Pak Jamal. Beliau adalah salah satu orang yang menjaga villa di Pulau Pramuka itu. Beliau memberitahu bahwa Bapak Rahmat (kenalan si Ijah) sedang membawa rombongan Ringgo Agus Rahman. Yang artis itu lho….. Mereka pergi menyelam. Si Pak Jamal ini adalah orang yang suenaang sekali bercerita. Saking banyaknya, kami hanya menangkapnya separo2. Cukup untuk menggali informasi seputar kegiatan wisata di Pulau Pramuka itu. Untuk info tambahan mengenai siapa dan sepenting apa beliau, sudah aku skip karena kurang penting sepertinya. hehehehe *ngumpet dulu aaaahhh*
Kami sekaligus meminta ijin untuk mendirikan dome di tempat kami mengobrol itu kepada Pak Jamal. Beliau merekomendasikan kepada bapak2 yang bersih2 tempat itu, dan ipada akhirnya kami boleh mendirikan tenda di situ. good.… :0
Sore itu, kami berencana akan melakukan kegiatan snorkling di sekitar darmaga saja, sekedar menyenangkan hati Salmul. Salmul tidak akan tinggal dan menginap bersama kami di Pulau Pramuka malam itu, karena dia sudah berjanji pada temannya yang lain untuk bertemu di rumahnya. Sayang sekali bukan?
Dan kamipun segera menitipkan barang ke villa yang di gunakan oleh Pak Jamal dan teman2nya beristirahat dan berkumpul. Sekaligus kami juga menyewa 2 buah life jacket untuk berjaga2 karena kami belum mahir berenang dan snorkling-an. Kamipun segera berjalan meniti jembatan kayu yang menghubungkan daratan dan darmaga. Rupanya saat itu rombongan Ringgo sedang bersiap untuk keberangkatan menyelam yang kedua. Memang Ringgo itu artis yang kocak..cak…cak… :p
Setelah perahu yang membawa Ringgo dkk menjauh, kamipun segera melepas dan memakai dresscode yang di perlukan untuk kegiatan kami. Tentunya, tujuan utama Salmul adalah untuk berfoto ria. Jauh2 datang dari Bogor, menghabiskan beberapa lembar rupiah, melewati waktu di pulau dengan sangat sebentar, hanyalah untuk mendapatkan beberapa jepret foto dengan phose snorkling. hahahhaa…. Biar semakin eksis ceunah… :p
Setelah semua kostum selesai di pasang, kamipun segera menceburkan diri di seputar darmaga kecil itu. Tempat yang dangkal dan sering di gunakan pengunjung untuk meng-kamuflasekan diri saat pipis. hahahhaa…. Tidak heran kalau pada akhirnya wilayah itu kehilangan terumbu karang, dan penghuninya berganti dengan bulu babi semata. hiiiiiii…… Musti banyak2 sedia air kencing nih, siapa tahu ada yang menyentuh dan menginjak bulu babi yang jumlahnya bejibun itu.
Kami hanya membawa 2 set alat snorkling. Karenanya, kami menggunakannya secara bergantian. Meskipun tidak ada terumbu karang yang indah2 di sekitar darmaga itu, kami cukup senang berenang2, berputar2, dan berfoto2 pastinya. Sebenarnya, tidak tega juga membiarkan Salmul kembali pulang ke darat hari itu juga. Karenanya, Aku dan Ijah berusaha untuk membujuk dan merayu (lebih tepatnya sih meracuni) Salmul untuk tetap tinggal di pulau bersama kami. Untuk acara trainingnya, kami membujuk dia untuk segera mengajukan ijin karena sakit kepada supervisornya (kebiasaan mahasiswa untuk melarikan diri). hahhahaa…
Namun sayang, kali ini Salmul tidak tergoda ataupun tergiur dengan rayuan maut kami. Dia tetap keukeuh dengan niatnya untuk pulang. Dia mengaku sudah cukup puas dengan waktu yang singkat dan foto yang sedikit itu. Dia memutuskan akan tetap pulang dengan kapal yang datang siang itu juga. Hiks…hiks…. Salmul…. We will miss you honey… ihikihikihik :p
Sekitar jam 1 siang, kapal yang akan membawa para penumpang dari Pulau Pramuka menuju Muara Angke tiba di pelabuhan Pulau Pramuka. Kamipun bergegas menuju pelabuhan untuk mengantarkan Salmul. Salmul yang masih menggunakan kostum snorkling, lengkap dengan google dan snorkle di kepalanya, melenggang kangkung mencari kamar mandi untuk berganti kostum. Aku, Ijah, dan Pet yang merasa lapar, menunggu Salmul sambil makan bakso di dekat pelabuhan. Di situ kami sempat bertemu dan ngobrol sebentar dengan Pak Jamal (again).
“Does she will go to Bogor with that clothes?” tanya Pet
Hahahha…. I dunno… maybe..” kataku sambil tertawa melihat Salmul yang kesana kemari mencari toilet.
Salmul kurang beruntung dan tidak menemukan kamar mandi untuk berganti baju. Akhirnya benar sudah tebakan Pet, bahwa Salmul akan pulang ke darat dengan kostum snorkling-an itu. Meskipun dikurangi google dan snorkle dari kepalanya, namun tetap saja kombinasi antara celana legging dan kaus hitam di tambah celana pendek bunga2 dan kerudung itu akan menjadi kostum yang sangat2 istimewa. Si Ratu Pede pun beraksi. hahahaha :p
Setelah Salmul berangkat dengan kapalnya, kamipun melanjutkan perjalanan mengelilingi Pulau Pramuka itu. Menurut kabar dari orang, di pulau ini kan ada tempat penangkaran mangrove dan penangkaran penyu, jadi kami akan membuktikan kebenaran kabar itu.
Dalam perjalanan, kami menemukan sebuah rumah kecil di pinggir jalan yang cukup menarik perhatian. Di bagian depannya, ada tulisan “Rumah Daur Ulang”. Sepertinya ini adalah rumah yang di buat oleh kelompok masyarakat sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat pesisir di pulau ini.
Setelah mengamati tulisan dan bangunan itu beberapa saat, kami baru menyadari bahwa ada seseorang yang kami kenali di dalam rumah itu. Orang itu memanggil2 kami untuk mendekat. Rupanya tak lain dan tak bukan beliau adalah Pak Jamal. hahahha…. Dimana2 sepertinya kami akan tetap dan terus bertemu dengan Pak Jamal. Betapa sempitnya Pulau Pramuka ini, meskipun hanya sekedar untuk bersembunyi dari Bapak Jamal. :p
Kamipun tertawa dan bergabung dengan Pak Jamal yang sudah duduk manis di salah satu kursi di dalam rumah itu. Selain Pak Jamal, aku melihat di dalam rumah itu ada 2 orang ibu2 yang sedang sibuk bekerja. Ibu yang satu sedang sibuk di sudut merapikan dan memotong2 plastik, Sedangkan si ibu yang satunya sedang sibuk menjahit dan menyatukan plastik2 itu menjadi tas.
Rupanya, rumah daur ulang itu adalah rumah yang di gunakan untuk mendaur ulang sampah plastik dari limbah rumah tangga, menjadi barang2 yang bisa di pakai kembali seperti tas, dompet, tempat hp, dll. Aku melihat banyak sekali barang2 yang di tampilkan di sana. Di gantung rapi dengan banyak sekali model. Bahan2nyapun beraneka ragam, mulai dari bungkus kopi, bungkus detergen, bungkus pewangi pakaian, bungkus panganan kecil, dll. Harganya juga tidak terlalu mahal, mulai dari Rp. 20.000-an. Woowww…
Berdasarkan keterangan si ibu yang menjahit, bahan dasar yang digunakan untuk daur ulang awalnya berasal dari Jakarta. Namun belakangan ini, bahan2 itu sudah bisa di peroleh dari Pulau Pramuka sendiri. Setiap Hari Minggu, anak2 SD di pulau itu juga melakukan kerja bakti di sepanjang pantai dan mengumpulkan sampah2 plastik untuk kemudian di berikan pada kelompok daur ulang ini.
Selain itu, ibu2 rumah tangga di Pulau Pramuka juga sudah mau memisahkan sampah2 rumah tangga mereka, sehingga lebih mudah lagi mendapatkan plastik bahan daur ulang.
Setelah dari tempat daur ulang sampah plastik, kamipun bergerak menuju ujung lain dari pulau itu. Ternyata, Pulau Pramuka memang tidak terlalu luas yaaa…. Baru sebentar berjalan, kami sudah sampai di pinggir pantai lagi. hahaha… Jadi pengen muterin pantainya. Oh iya, menurut si ibu yang menjahit di tempat daur ulang tadi, katanya akan segera di bangun jalan lingkar luar di sepanjang pantai Pulau Pramuka itu. Waduh…. alamat pantainya bakalan banyak berubah donk. Selalu saja ada konsekuensi yang harus di terima untuk membuat sebuah kemajuan… ck..ck..ck…
Beberapa waktu kemudian, kami melihat ada Kapal yang sudah lapuk dan dimakan makhluk2 kecil2. Aku menunggu Ijah dan Pet yang pergi ke Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu untuk menyelesaikan beberapa urusan. Aku menikmati pemandangan pantai yang banyak di tanami mangrove. Di depanku, sepertinya merupakan lahan penanaman mangrove untuk mencegah abrasi pantai. Ya, Kepulauan Seribu memang banyak mendapat ancaman dari abrasi pantai.
Disamping karena permukaan tanahnya semakin menurun, permukaan laut juga semakin lama semakin naik. Keberadaan mangrove di sepanjang pantai sangat di perlukan untuk menahan gerusan ombak. Meskipun itu artinya kita harus merelakan pantai yang bisa kita gunakan untuk bermain ombak, berubah menjadi tanaman mangrove. :)
Puas melihat2 kondisi pantai dengan mangrovenya, kamipun berjalan menuju menara yang ada di pantai itu. Menara yang terbuat dari semen itu, digunakan wisatawan untuk menikmati pemandangan laut hingga sejauh mata memandang. Lumayan juga. Kami sempat berfikir untuk mendirikan tenda di atas menara itu saja malam harinya. Sepertinya akan lebih nyaman daripada di pantai yang banyak nyamuknya. :p
Aku segera turun dan menyusuri jalanan kembali. Dari keterangan seorang bapak yang sedang mendorong gerobak yang berisi tanaman mangrove, beberapa meter kedepan adalah tempat penangkaran penyu. Akupun berjalan menuju kesana. Namun sayang sekali, penjaga yang membawa kunci untuk memasuki ruangan penangkaran sedang tidak ada. Karenanya, kami hanya bisa melihat dari luar ruangan. Di dalam ruangan itu, banyak sekali bak2 yang berisi penyu sisik dengan berbagai ukuran. Ada yang masih berupa tukik, hingga yang sudah berukuran besar.
Di bagian depan, terdapat meja yang memuat botol dan tabung2 berisi alkohol. Rupanya itu adalah media yang digunakan untuk mengawetkan tukik dan telur yang gagal menetas. Hiks…. baunya lumayan mengena, tapi lebih kena perasaan kasihannya. :p
Di sekeliling tempat penangkaran penyu itu, ada bedeng2 yang digunakan untuk persemaian mangrove. Mulai dari Mangrove yang baru saja di stek, hingga mangrove yang sudah tumbuh subur. Mungkin setelah cukup umur dari lokasi persemaian itu, baru kemudian mangrove2 tersebut di tanam di pantai. Masih menurut keterangan si ibu penjahit, katanya penangkaran mangrove di Pulau Pramuka ini adalah termasuk salah satu penangkaran yang paling besar.
Selain persemaian yang ada di areal penangkaran penyu, rupanya masih ada lagi satu bedeng persemaian mangrove yang terletak di seberang jalan. Di sana tertera keterangan yang menyebutkan bahwa persemaian itu dilakukan oleh sekelompok pengunjung yang sedang mengadakan aksi peduli lingkungan.
Karena aku sudah cukup puas melihat2 penangkaran penyu sedangkan Ijah dan Pet belum, maka akupun berdiri di pinggir jalan, melihat kesibukan masyarakat Pulau Pramuka di sepanjang jalan itu. Tiba2 ada bapak2 yang sedang bersepeda, yang jika di tilik dari raut mukanya adalah orang yang ramah dan mudah di ajak bicara. Prosedur standarpun di lancarkan. Senyum, sedikit menyapa, dan kemudian beliau berhenti. Obrolanpun di mulai.
Pak Zakariya alias Pak Zak. Itulah nama beliau. Bukan kepala balai, namun merupakan salah satu orang yang berpengaruh di Balai Taman Nasional Pulau Seribu (begitu menurutnya). Kami berempat ngobrol sambil berdiri, masih di depan penangkaran penyu. Banyak hal yang di bicarakan, namun bagian yang terpenting dari obrolan panjang itu adalah bahwa si Pak Zak menawarkan kepada kami untuk snorkling bersamanya. Terlihat sekali bahwa beliau senang mengobrol dan berbagi ilmu, terlebih lagi dengan Pet. Ow..ow…
“Memang kalian beneran mau snorkling?”
“Mau donk pak…”
“Kalau begitu, saya bisa mengantarkan kalian snorkling dengan kapal balai”
“Eh, serius pak? gratis nih?”
“Iya, gratis…..”
“Asyiiikk…. mau donk pak… terima kasih ya pak…”
“Kalau gitu nanti kalo sudah siap, telpon saya saja”
“Siap pak… kita mau makan dulu sebentar”
Transaksi selesai dengan hasil memuaskan. Kamipun makan siang dengan tenang dan gembira. Bayangan untuk bisa snorkling-an di tempat yang benar2 layak untuk snorkling sudah membayang di pelupuk mata. Yang lebih menyenangkan lagi adalah aroma gratis yang sudah sedemikian kuatnya melekat di otak. Dewi fortuna sudah rela loncat dari puri kahyangan untuk membantu kami yang lemah ini. hahahaha
Selesai makan, kamipun menghubungi Pak Zak untuk memastikan waktu dan tempat bertemu. Kami akan bertemu di dermaga kecil tempat kami berenang siang harinya. Tak lupa, terlebih dahulu kami menitipan barang2 kepada Pak Rahmat di villa tempat mereka beristirahat. Beliau sempat heran dan bertanya2 ketika kami mengatakan bahwa kami akan di ajak ber-snorkling ria dengan Pak Zak. Mungkin dalam hatinya beliau bertanya2, ini anak2 muda nemplak-nemplok sama orang2 seenaknya sendiri…. hehehehhe
Tak berapa lama kemudian, Pak Zak sudah datang dengan perahunya yang lucu. Perahu balai taman nasional yang mungil. Di bagian pinggirnya terdapat tulisan “Acropora echinata“. Acropora echinata adalah nama ilmiah dari salah satu coral yang ada di Kepulauan Seribu. Kamipun dengan bersemangat 45 menaiki kapal tersebut. Pak Zak mengendarai kapal tersebut dengan lihai.
Dalam perjalanan menuju tempat snorkling, kami melewati sebuah kolam renang. Kolam renang lengkap dengan anjungan untuk lompat indah. Setelah kolam renang, kami melewati sebuah penangkaran ikan. Aku lupa tepatnya ikan apa, kalau tidak salah itu adakah penangkara ikan bandeng. Entahlah… ingatanku mulai memburuk lagi. Di tempat penangkaran ikan itu, banyak sekali bertengger burung2 laut. Diantaranya burung Pecuk. Tentu saja mereka betah berada di situ, karena persediaan makanan untuk mereka pasti lebih sustainable. :p
Selain penangkaran ikan, ada juga pabrik pengalengan di tengah laut. Wow… pasti ikan2 yang di kalengkan disana sangatlah segar. Lokasinya saja langsung di tengah lautan. Kemudian kami melihat ada beberapa perahu mewah beserta dengan beberapa orang yang (nampaknya) merupakan orang2 Cina/Jepang. Menurut keterangan Pak Zak, kapal2 yang mewah itu adalah kepunyaan mereka sendiri, yang diberangkatkan dari Pelabuhan Marina. ooohh…. orang2 kaya… Kata kami (dengan sedikit nyinyir) hahaha…
Beberapa saat kemudian, kami melihat sebuah bangunan(masih di tengah laut) yang nampaknya adalah restoran. Hmmm…. restoran di atas laut rupanya. (Masih menurut Pak Zak), restoran itu merupakan tempat makan yang banyak di kunjungi oleh wisatawan2 berduit. Intinya, harganya jauh lebih mahal daripada makanan di darat lah yaw…. Setelah restoran, kami juga melihat sebuah bangunan mungil yang terpisah dari restoran tadi. Nampaknya itu adalah sebuah villa mungil. Waaahhh…. Keren ya villa di atas laut itu. Romantis sekali kalau bulan madu di tempat itu. :p
Kami sempat melihat satu ekor penyu sisik yang sedang berenang di lautan. Pet berniat untuk mengabadikannya melalui kameranya, namun tidak terburu waktu. Penyu itu segera kabur dan tidak menampakkan diri lagi. Kami berharap semoga nantinya kami masih bisa melihat penyu2 yang lainnya. :)
Tak lama kemudian, kami sampai di tempat yang kami tuju sebagai lahan snorkling-an. Perahupun di tambatkan. Tak jauh dari kami, ada satu gubuk apung yang memang terapung2. Rupanya itu adalah gubuk untuk para penggemar fishing atau memancing. Suatu saat aku pengen juga merasakan memancing sambil di goyang2 ombak begitu. Kalaupun tidak memancing, mungkin bisa juga membaca buku di tempat itu. Pasti waktu akan berlalu dengan cepatnya. :p
Kamipun bersiap2 untuk turun ke air dan menikmati keindahan bawah laut kepulauan ini. Pet sudah dengan lihainya berenang kesana-kesini. Pak Zak sudah menyiapkan satu buah lifevest untuk antisipasi bagi kami yang kurang bisa beranang ini. Aku dan Ijah mencoba alat snorkling yang kami bawa. Aku segera turun dan melihat bahwa di bawah sana pemandangan sangat indah. Banyak terumbu karang warna-warni yang masih tampak baru, hasil transplantasi.
Percobaan snorkling pertama menjadi sesuatu yang lucu karena aku dan Ijah sama2 belum menyadari bahwa kami dengan mudahnya terbawa arus. Akupun berpegangan pada lifevest yang telah di pegang Ijah terlebih dahulu. Karena perbedaan berat badan dan juga posisi, kami menjadi bergulat bersama naik turun bergantian. Aku tertawa terbahak2, masih dengan peralatan snorkling di mulutku.
Aku meminta Ijah untuk mengantarkanku kembali ke kapal untuk sekedar membenahi posisi alat snorkle-ku. Ijah dengan sekuat tenaga mendorong lifevest itu menuju kapal. Namun lama sekali rasanya, kami tidak bertambah maju. Rupanya, arus melawan usaha kami lebih kuat. hahahhaa….. Aku dan Ijah pun bergelut bersama sambil terus tertawa mentertawakan diri kami sendiri. Pada akhirnya, setelah sekian lama berusaha, akupun bisa di selamatkan ke kapal. Wuidih…. Banyak energi terkuras untuk “me-rescue” perjalananku yang pertama. hahahahha
Pak Zak menunjukkan bahwa tidak jauh dari kami, ada sebuah coral masif yang sangat besar dan bisa kami gunakan untuk berdiri. Ijah dan Pet terlebih dulu sampai di coral itu, baru kemudian aku menyusul. Aku sudah bisa snorkling-an sendiri tanpa bantuan lifevest pada akhirnya. Menyenangkan sekali. Thanks for the opportunity ya Pak Zak…. ^_^
Aku melihat di bawah sana banyak sekali terumbu karang hasil transplantasi yang sedang tumbuh. Hal itu dapat dilihat dari batu2 yang berasal dari semen, yang di gunakan sebagai media tumbuhnya. Pak Zak menceritakan bahwa coral2 itu usianya sekitar 2 tahun-an. Beliau juga menceritakan banyak hal mengenai pulau2 di Kepulauan Seribu beserta dengan potensi2 yang di miliki. Ini baru merupakan salah satu dari sekian banyaknya kekayaan Bangsa Indonesia. ^_^
Pak Zak sempat bercerita mengenai privatisasi pulau yang di lakukan oleh beberapa orang kaya dari dalam dan luar negri Indonesia. Selain itu, pak Zak juga menceritakan mengenai suka duka bekerja di pulau seperti itu. Tak terasa, haripun beranjak malam. Gelap datang dengan cepat, dan kami di anjurkan untuk segera naik ke kapal untuk kembali ke Darmaga. Permintaan Pet untuk berenang menyusul kapal di tolak oleh Pak Zak. “Sudah malam” katanya. Sekali lagi, terima kasih banyak Pak Zak…
Kamipun di turunkan di darmaga tempat kami naik sebelumnya. Pak Zak langsung pulang, Pet dan Ijah melanjutkan berenang, dan aku memilih pergi ke warung untuk membeli air minum dan sedikit makanan. Logistik kami rupanya teramat sangat kurang, di ikuti dengan semakin berkurangnya persediaan uang cash kami. Pelajaran untuk yang akan berwisata ke pulau, untuk membawa uang cash sebanyak2nya. :p
Akupun berjalan menyusuri darmaga sambil menikmati angin pantai yang lembab. Aku sempat berhenti sebentar dan mengamati aktivitas beberapa orang yang sedang sibuk mengangkut tanaman mangrove. Sepertinya mereka akan membawa bibit2 mangrove itu ke pulau lain. Aku lupa menanyakan pulau mana yang akan di tuju kapal itu.
Akhirnya aku menemukan warung kecil yang menjual beberapa kebutuhan pokok rumah tangga. Bahan2 utama yang aku butuhkan sudah kudapatkan, lalu aku memilih beberapa snack untuk cemilah di darmaga. Sayang sekali, persediaan snack di warung itu sangat minim sekali. Selain jumlah pilihannya sedikit sekali, snack yang adapun sepertinya sudah hampir kadaluarsa. Pelajaran lagi untukk yang akan berwisata ke pulau adalah membawa sebanyak2nya snack atau penganan dari darat agar tidak kelaparan.
Bekal untuk melewatkan malam yang teramat sangat minimalis, sudah di pelukan. Akupun kembali menyusuri gelapnya pantai yang benar2 sepi. Mengingatkanku pada pengalaman ketika aku berjalan di pulau Karimun Jawa untuk tujuan yang sama. Hanya saja Karimun Jawa memiliki lebih banyak pilihan cemilan di bandingkan di pulau ini.
Sesampainya di darmaga, aktivitas berenang sudah selesai. Kamipun mendirikan tenda yang akan kami gunakan untuk bermalam. Entah kenapa dalam perjalanan ini aku merasa sangat bodoh dan kurang persiapan sekali. Banyak hal2 yang aku lupakan dan tidak aku bawa sehingga menjadi masalah kemudian. Contohnya, pisau multiguna C*****n ku. Sangat sulit mengatasi keteledoran ini. :p
Malam itu langit terang bersama bintang2 nya, meskipun nampaknya bulan sedang absen. Jutaan bintang bersinar terang di atas sana, menemani kami yang bergelimpangan di dermaga. Kami bercerita ngalor-ngidul mengenai banyak hal. Tidak perduli apakah materi yang kami bicarakan saling bisa dipahami atau tidak. Scara pembicaraan 3 bahasa gitu lho. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, plus Bahasa Tubuh. hahahahhaa…..
Isi pembicaraanpun beraneka ragam. Mulai dari bintang, pekerjaan, hingga masalah cinta. Prikitiew…. prikitiew….
Sayangnya, pesona bintang yang cukup melenakan itu tidak bertahan lama. Bersamaan dengan malam yang semakin kelam, mendungpun datang tanpa perlu di undang. Perlahan namun pasti langitpun menggelap. Dan tak berapa lama kemudian, mulai turun rintik hujan yang semakin menderas. Kamipun bergegas memasuki tenda, dan bersiap tidur.
Sepertinya aku sudah terlelap ketika sayup2 kudengar Ijah atau Pet berkata,
“Someones coming”
“Wah…. so scary….”
Mau tidak mau, kesadarankupun menjadi terpanggil dan aku mulai terbangun. Akupun ikut melongokkan kepalaku ke luar tenda. Rupanya ada seorang bapak2 tua yang memakai sarung dan baju koko, berdiri di ujung dermaga. Dia berdiri dengan tenang sambil menghadap ke laut, membelakangi kami. Sekilas, aku melihatnya menggerak2an tangannya yang memegang benda seperti bakul kecil. Benda itu dia putar2kan secara perlahan dan kontinyu.
“What is he doing?”
“I don’t know… Maybe he just make some ceremony or ritual”
“What kind of ceremony?”
“I dunno….”
Dan akupun kembali menempati tempat tidurku dengan perasaan sedikit was-was. Khawatir juga kalau misalkan ternyata si bapak itu memang sedang ritual. Jangan2 nanti dia kesurupan terus membabi buta ke tenda kami, atau mungkin saja dia adalah orang jahat. Hhiiiiyyyy….. Parno….
Lama kelamaan, aku mendengar suara dari luar tenda. Nampaknya dari tempat si bapak itu berdiri. “Seerrrrr….. seerrrr….. ” Pikiranku langsung berkelana dengan liarnya. Aku pikir si bapak itu pasti sedang melakukan ritual mengumpulkan tenaga atau energi dari laut. Itulah mengapa dia menggerakkan tangannya secara memutar seperti tadi. Pasti suara itu adalah suara energi yang datang dari laut dan mulai terkumpul sedikit demi sedikit di tangannya. Waduh, kalau energinya semakin besar, bagaimana nasib kami? tanyaku dalam hati.
Lamunan liarku berhenti mendadak ketika si Pet tiba2 bilang,
“I know what he did….. He just fishing….” Katanya
“What… ?” tanyaku langsung duduk lagi
“Ya…. he just fishing. And the voices come from his equipment.”
Dan kamipun mengamati si bapak. Setelah beberapa saat, si bapak tampak melempar tali ke tengah laut, dan kemudian muncul kembali bunyi2an itu. Maka yakinlah aku kalau si bapak hanya sedang memancing. hahahahhaa….. Maklum, otak sudah terlanjur berkhayal. :p
“Pak, sedang mancing apa pak?” tanyaku, dan si bapak tidak mendengarnya.
“Maaf pak, bapak sedang mancing apa ya?” tanyaku sedikit lebih keras.
“Oh, saya sedang mencari cumi. maaf kalau mengganggu ya” kata si bapak sambil menengok ke arah kami.
Akhirnya aku dan Pet tertarik untuk mendekati, melihat dan menemani si bapak memancing cumi. Nama beliau adalah Pak Umar. Beliau tinggal di Pulau Pramuka, dekat dengan tower (nggak tau tower mana). Beliau memang sering memancing cumi di darmaga ini. Menurut beliau, setelah hari hujan, ketika bintang mulai bermunculan, maka cumi2 akan datang ke darmaga ini karena tertarik dengan cahaya lampunya.
Pak Umar yang bekerja di perhotelan sewaktu masih muda, bisa berbicara bahasa inggris dengan cukup baik. Beliau senang sekali bisa bertukar cerita dengan Pet tentang cumi (sepia), alat pancing cumi, laut, perikanan, pemerintah, dan lain sebagainya. Beberapa percobaan yang di lakukan Pak Umar gagal dan tidak membuahkan cumi. Salah satu lemparan kail Pak Umar sempat nyangkut di dekapan cumi, namun terlepas kembali ketika di tarik. Pak Umarpun menyerah dan tidak ingin melanjutkan lagi.
Si Pet akhirnya tertarik untuk mencoba memancing cumi. Dan rupanya, rejeki Pak Umar ada di tangan Pet malam itu. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Pet berhasil menangkap 1 cumi. Dengan sangat bernafsu dia segera mengeluarkan kamera dan menjeprat-jepret sana-sini. Dia terlihat terlalu antusias untuk ukuran bule bertemu dengan cumi. Akhirnya diapun berphoto bertiga dengan sahabat barunya, Pak Umar dan si cumi. Sayangnya si cumi yang rentan terhadap kekeringan itu cepat sekali meninggal dunia. Usaha Pet menyelamatkan dengan cara memberikan air laut pada plastiknya gagal. Karenanya, cumi itu langsung di berikan saja pada Pak Umar untuk di bawa pulang. Pak Umarpun pulang, kami berpisah dengan Pak Umar, dan kami kembali tidur, menyusul Ijah yang sudah bablas sampai papua. :p
Paginya, kami bangun cukup siang. Aku terbangun karena aku merasa lapar. Beruntung masih ada indomie yang bisa aku masak dan aku makan meskipun tanpa sendok. Pak Zak sempat mendatangi kami, namun karena baru aku seorang yang bangun dan tidak tau mau ngobrol apa, akhirnya beliau pergi lagi. So sorry pak… nyawa saya belum ngumpul benar. hehehehhe
Mendekati waktu kapal datang, barulah kami semua benar2 bangun. Dengan segera kami membenahi tenda dan semua peralatan agar bisa mengejar kapal. Si Pet sempat berkata, kenapa kita tidak menunggu kapal yang siang hari saja sehingga kita tidak perlu stress dengan persiapan yang mendadak ketika nyawa belum sepenuhnya terkumpul? Namun akhirnya dia menyerah juga, karena menghadapi kenyataan bahwa kami sudah hampir kehabisan uang cash. Semakin lama kami tinggal di pulau, maka keuangan kami yang telah di landa krisis moneter itu akan semakin parah. Dan kamipun pulang bersama dengan penumpang kapal pagi yang lainnya.
Selamat tinggal Pulau Pramuka, sampai bertemu lagi secepatnya…. :)

Sumber : kompasiana.com 

Setelah menunda2 trip ke a thousand island, akhirnya kmaren februari kesampean juga ke si tempat wisata yang jaraknya itu deket banget sama rumah hehehe :D (yaa.. masih jakarta kesanaan laah).

Tgl 26 feb kmaren, gwe ma temen2 ex ilkom brawijaya, 3 orang akhirnya ke si seribu pulau juga. kita tadinya janjian di depan citraland, tapi berhubung gwe salah turun jadinya, gwe ma ernin dijemput di depan mol slipi jaya hehehe :D n niatnya mo ngeteng, karena panik takut ketinggalan si kapal (waktu itu udah jam 1/2 7), jadi kita nerusin perjalanan ke muara angke pake taksi heheeh ;9. Buat yang mo ngeteng.... bisa naek angkot B01 warna merah jurusan grogol - muara angke dari depan mol citraland, grogol.

Dengan maksa si abang2 taksi buat full speed, kita sampe di angke jam 7 lewat 5 menitan n lari2an try to catch the kapal, yang ternyata that day, ada 2 kapal yang brangkat... since ternyata si long wiken itu penuh kali orang2 yang pada mo ke pulau seribu. Udah gitu kapal kita masih nunggu beberapa rombongan pula.. jadinya.. kapal brangkat jam 8an.

Kapal dari muara angke itu ada 2 jurusan, yang satu ke pulau pramuka, yang satu lagi ke pulau tidung. Karena gwe awalnya dah ngetek penginapan sama si orang pulau pramuka which is tetangga gwe, jadinya kita ke pulau pramuka. Since katanya emang pulau pramuka itu pusat kotanya. i mean, pusat pemerintahan n keperluan manusia pada umumnya ada disitu hehehe ;9


ini si kapal ke pulau pramuka

Soo... si kapal yang took us to pramuka island sailed away.... n kita alhamdulillah sampe dengan selamat di pulau pramuka jam 11 siang ^^. Puaaaannnaaassss >_<


Hooo yang geje dari pelayaran this time itu si tata cara pembayarannya, gwe ga ngerti... ga ada yang nagihin kita tarif masa.... gwe tungguin sampe si kapal berlabuh n orang2 pada turun, belom ada juga yang nagihin ongkos. Sempet kepikiran kalu mungkin kita dikira masuk ke rombongan orang2 laen ^_^. Niat busuk sebenernya kita bisa tuh ga bayar, tapi takut tsunami, jadinya kita bela2in nyari abang2nya n bayar. Ongkos perahu : 30000.

Akhirnya sampe juga di pulauuu sribuuu..... ^^, sesampe di sana kita langsung nyari ibu yayah yang ditugasin tetangga gwe nganter ke penginapan itu. Di penginapan, kita istirahat bentar, cari makan trus jalan2. Hoooo... kita ini kan dateng jumat, i suggest you all jangan dateng jumat2... soalnya nelayan ga ngelaut, jadinya sepiiiy.. ga tau knp... warung yang jualan dikit. Kita kira malem bisa bakar ikan or apa gituh, ga bisa ternyata, ga ada ikan *_* n warung yg buka juga cuman ada satu, n mahal huks T_T batal mengirit.

Tips : Bawa rotttiii dari rumaaahhh :D


Day 1 rada geje juga, since nih pulau.. dari begitu kita sampe sampe malem.... sepiiyyy bangettt,, ga ada satu tempat pusat keramean layaknya tempat2 wisata gtu *_*. Day 1 kita juga nyebrang ke pulau karya yang ga butuh ongkos banyak, cuman nake ojek kapal 3000/orang. di sana... bagus sih pantainya, aernya bening... tapi banyak bulu babi, yang bikin snorkelingan kita ga begitu nyaman... gatel2 boooo :D;. banyaknya sih di sini orang2 pada berenang. Pulaunya sepiy... pantainya berpasir putih n cetek aernya, buat snorkeling.. ga terlalu bagus juga kalu menurut gwe. Tapi pantainya, untuk ukuran pantai daerah jakarta dan sekitarnya, keren kok.... ^^ aernya bening.... ^^

Snorkeling di pulau karya
me and si bulu babi.. gatelll ~_~  tapi beniiingg ^^
Abis dari pulau karya, kita balik ke pulau pramuka pake ojek kapal yang sama, @3000 rupiah. Sampe pulau pramuka, bersih2, trus ngejar sunseettt ^^. Gwe ngejar sunset di kanan pulau dari dermaga, itu deket tempat budidaya tumbuhan bakau. Karena di pulau pramuka ini jarang sekali pantai, jadi si sunset kita nikmatin di atas sejenis dermaga. not the best sunset i'd seen but it's beautiful ^^.

sunset @pramuka island

Abis sunsetan, kita... balik ke penginapan, solat2 n pergi nyari makan. Seperti yang dah gw bilang before, kalu kemari jangan hari jumat. Minim banget yang jualan. Yaaa karena ga nemu yang bakar2an  ikan, cuman ada pilihan makan di restoran apung or warung yang tadi siang kita makan. Karena takut mahal di restoran apung, kita makan again di warung tadi siang :p abis makan... karena geje, n cape, kita istirahat aja di penginapan, prepare for tomorrow ^^.

Besoknya, sabtu.. ah pagi2 kita cuman nunggu 2 orang temen lagi yang mo dateng here. N bener perkiaraan gwe, sabtu jauh lebih rame n brasa liburan di pulau ini. abis ga lama temen kita sampe, kita langsung cabut snorkeling day 2, which would be the real snorkeling time ^^.

Hari ini kita ga geje, karena.... kita sewa perahu n guide. Walopun bukan guide sebenernya. itu cuman si bapak nelayan kerabatnya bu Yayah yang kmaren nyariin kita penginapan. Ya at least ada orang jago berenang yang bisa nyelametin one of us kalu kenapa2 hehehe :P so kita berenam pun brangkat ke spot pertama, cemara besar... ^^. aaahhhh ini baru snorkeling beneran, rada jauh dari daratan n karangnya bagus. I mean, di tengah2 kota jakarta yang polusinya banyak tak terkira, gwe ga nyangka aja laut utaranya masih punya terumbu karang yang bagus.

bnu snorkeling @semak daun

Abis snorkelingan di spot 1, kita makan siang dulu, berlabuh bentar di semak daun. Menurut gwe ini pantainya indah banget, aernya bening. ada dermaganya pula, trus pulaunya banyak pohon2 sejenis pinus (emang pinus tumbuh di pantai  ya?). Gwe liat banyak yang latihan snorkeling di sini, apa karena ini emang spot favorite buat snorkeling, entahlah ;9. 

Semak daun island
ini isinya si semak daun
maen2 di semak daun
 Abis cape maen2 di semak daun, kita ready to visit our next spot, pulau air... ^^ di pulau air ini lucu, si perahu itu muter jalannya since karangnya emang rendah2, jadi kita itu melewati puau yang terbelah, keren dah.. warna aer laut masih ijo toska beninnng.. trus si pulau kebelah itu banyak pohonnya pula.. ijo2... ^^ segerrrr ;9
ini si pulau air
pulau seupil di tengah2 jalan ke pulau air

Abis cape2an di pulau air, emang udah sore juga, kita balik ke pulau pramuka , nyampe di pramuka dah mo sunset aja.... kita back to penginapan, beres2 mandi n nyari ikan.... hooo buat yang mo bakar2 ikan, kmaren itu nemu si bapak2 yang emang biasa jualin n nyedian prasmanan buat bakar2an ikan, bapak2 itu rumahnya di sisi barat pulau pramuka, pinggir laut pula. Sama kek di Ujung genteng, kita mesen ikan, macem ikannya, bisa milih murah juga kok sekilonya, abis itu  minta bakarin ke bapaknya, or kalu mo sekalian minta dibikinin prasmanan aja. Kmaren total 150ribu, untuk 3 kilo ikan bakar, sayur lodeh sepanci, nasi sebakul, krupuk, aer mineral, sambel 2 macem @semangkok geda, n lalapan. sebenernya porsi itu bisa buat 10 orang, berhubung kita cuman berenem, jadinya begaahhh =)).

Abis makan ikan bakar di pinggir pantai pula..  i think it's time to realize we should head the routines besoknya hehehe :D yeap, kita tidur and besoknya pulang.

Untuk kapal pulang ke muara angke, jadwal kapal jam 7 pagi. But karena waktu itu kita ketinggalan, jadina kita naek kapal yang jam 2 siang. FYI,. penuh juga si kapal jam 7,  kalu mo dapet tempat pw, i suggest you to take an earlier leave ^^.

akhirnyaaahhh si pulau seribu yang tak pernah terkunjungi, terkunjungi juga heheheh :D dah lega sekarang hehehe :D

btw ini postingan udah lama mengendap di draft gwe heheh :P sorry ya... kinda "busy" on something *tepuuuww* heheehe :D biasalah .. penyakit blogger... mood moodan hehehe :D

sekian sajah report perjalanan kali ini ahahaha .... smell ye later ^^
 
Sumber : magicaelly 
 
 

Text Widget

Popular Posts

Recent Posts

Sample Text

Unordered List

Pulau Seribu