Sate gepuk merupakan makanan khas warga Pulau Panggang. Bahkan sate yang terbuat dari ikan tongkol dan kelapa ini sudah merupakan usaha warga Pulau tersebut. Sebut saja diantaranya Ibu Sukyati (42) yang menggeluti usaha ini sejak tahun 1986. Ibu warga Kepuluan Seribu Utara ini memenuhi kebutuhan seharinya dengan usaha sate gepuk. Tidak heran dengan ketekunannya sate gepuk yang diolahnya sudah sangat terkenal di Kepulauan Seribu.

Sate gepuk rasanya pedas, enak dan gurih. Cita rasa sate ini dapat dimakan dimana saja dan kapan saja. Cetus salah satu warga pulau Panggang. Sate gepuk selain menjadi makan orang pulau, juga banyak di sukai warga kota Jakarta. Harganya pun relatif murah dan tidak sampai menguras kantong berkisar Rp. 15.000 hingga Rp 20.000 per-satu ikan.

Ikan yang tidak mempunyai tulang ini ternyata banyak dilirik oleh ibu-ibu PKK Kepulauan Seribu saat mengikuti perlombaan makan hias. Jadi tidak berlebihan bila Sate Gepuk merupakan makanan kebanggaan warga Pulau Seribu.

Dalam mengembangkan usahanya tersebut, Ibu Ece mulai dari pembuatan sampai pemasaran ia jalani bersama keluarganya. Ia sadar betul untuk memakai jasa orang lain belum bisa dilakukan. Alasannya untung yang di dapat tidak seberapa hanya Rp.10.000 per- satu ikan. jadi tidak mencukupi. Belum lagi ditambah bumbu-bumbu yang mahal sejak naiknya bahan bakar minyak (BBM) , katanya.

Usanya pun sempat terhenti bulan-bulan ini, karna bahan untuk membuat sate gepuk tidak ada. Lantaran tidak adanya nelayan yang melaut karna faktor cuaca yang sangat buruk.

Sang suami, Bapak Junaidi (56) sebagai tumpuan keluarga juga tidak bisa berbuat apa – apa. Pekerjaan sebagai nelayan yang selama ini dijalani juga terhenti. Alasannya gelombang disertai angin barat nampaknya menjadi penghambat bagi nelayan kepulauan seribu saat ini.

Namun Ibu Sukyati dan keluarganya tidak berkecil hati. Keluarga nelayan di Pulau Panggang itu tetap akan melanjutkan usaha, termasuk dengan berjualan sate gepuk manakala tangkapan ikan tongkol sudah banyak lagi.(www.pulauseribu.net)

Bandeng cabut duri kini dikembangkan di gosong (daratan dangkal) Pulau Pramuka di gugusan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Bandeng laut memiliki kelebihan dibandingkan bandeng tambak, terutama rasa lebih gurih, daging lebih padat, bentuk fisik lebih bersih.

Budidaya bandeng laut ini diolah oleh PT Nuansa Ayu Karamba sejak dua tahun lalu. Salah satu yang dikembangkan oleh bandeng cabut duri. Lokasi budidaya bandeng laut ini sering dikunjungi wisatawan yang datang ke Kepulauan Seribu.

“Wisatawan bisa membeli aneka ikan tak hanya bandeng di lokasi dengan harga bersaing dengan pasar di Jakarta. Harga ikan yang kami jual adalah harga bersih. Isi perut sudah dibuang 20 persen,” kata General Manager PT Nuansa Ayu Karamba, Martin Hadinoto di lokasi di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu.

Menurut Martin, lulusan Aquaculture Techinal College Perth Australia ini, bandeng laut dibudidayakan di keramba jaring apung (KJA). Panen bandeng laut ini dipanen setiap hari rata-rata 1,5 ton. Harga jual bandeng laut segar Rp 13.000-Rp 15.000 per kilogram. Sedangkan bandeng cabut duri seharga Rp 40.000/kg. Umumnya bandeng laut ini dilelang di pasar ikan di Jakarta.

Yang istimewa, bandeng laut ini diolah lagi menjadi bandeng cabut duri. Ikan bandeng merupakan jenis ikan spesifik yang mempunyai duri halus yang banyak tersebar di seluruh tubuhnya. Jumlah duri pada ikan bandeng sedikitnya 164. Banyaknya duri pada ikan bandeng merupakan kendala dalam konsumsi. Padahal ikan bandeng termasuk ikan yang rasanya paling enak Bahkan bandeng laut memiliki Omega 3 sebanyak 14,2 persen, lebih tinggi dari ikan salmon yang hidup di laut dalam.

“Yang kami kembangkan adalah bandeng cabut duri dalam bentuk utuh, yang dapat disimpan dalam keadaan dingin maupun beku, tergantung lama penyimpanan,” kata Martin.

Potensi Kepulauan Seribu sangat besar. Baik dari segi usaha ekonomi bisnis kelautan dan perikanan, penyerapan tenaga kerja lokal maupun transfer pengetahuan kepada masyarakat lokal. Selain itu lokasi budidaya ini dapat menjadi obyek wisata pendidikan bahari dan konservasi sumber daya alam laut di pulau permukiman. Usaha ekonomi ini membangun juga pemulihan lingkungan hidup seperti penanaman hutan pantai, terumbu karang, pelepasan ikan ke alam (restocking).


Penulis : R. Adhi Kusumaputra Sumber : R. Adhi Kusumaputra/Kompas

Text Widget

Popular Posts

Recent Posts

Sample Text

Unordered List

Pulau Seribu