sukun-00

Sukun, Ragam Khasiat dalam Satu Pohon


Zaman sekarang orang biasa bergegas menemui dokter jika mempunyai keluhan penyakit. Tak jarang, setelah banyak uang melayang, penyakit yang diderita tak kunjung hilang. Karena itulah cara pengobatan alternatif pun kerap dilirik. Selain lebih murah, bahannya pun alami dan tersedia di sekitar kita. Salah satunya adalah sukun, herba ajaib yang ampuh sembuhkan aneka penyakit.
Oleh Yulia Permata Sari | Artikel ini diterbitkan pada edisi 04 Vol. 3 Tahun 2008

Gaya hidup tidak sehat yang dijalani masyarakat perkotaan saat ini membuat berbagai macam penyakit setia mengantri. Sempitnya waktu yang tersisa karena setumpuk aktivitas membuat orang kurang berhati-hati memilih makanan. Gerai fast food pun akhirnya menjadi langganan, entah karena doyan atau sekadar ikut-ikutan. Padahal, selain menyebabkan obesitas, fast food yang mengandung kadar gula, garam, dan lemak tinggi itu juga berisiko memicu penyakit jantung (penyebab kematian nomor satu di dunia yang menewaskan sekitar 17 juta orang per tahun) serta hipertensi (faktor risiko besar penyakit jantung). Siapa sangka, berbagai penyakit yang biasa disebut “penyakit makan enak” itu ternyata bisa diatasi dengan tanaman sukun, yang buahnya lekat dengan cap “makanan kelas bawah”.
Kebanyakan orang mungkin telah mengenal sukun sebagai salah satu penganan yang sedap dinikmati bersama teh manis atau kopi di sore hari. Buah sukun biasanya diolah menjadi cemilan dengan cara digoreng, direbus, dikukus, atau dibakar. Tapi barangkali hanya segelintir orang yang tahu bahwa tanaman sukun, mulai dari buah, daun, bunga, kulit batang hingga getahnya, memiliki segudang manfaat, termasuk untuk mengobati berbagai macam penyakit.
“Pohon sukun biasanya tumbuh di daerah tropika lembab bertemperatur 20-40º C dengan curah hujan 2.000-3.000 mm/tahun dan kelembaban udara 70-90%”
Sukun sesungguhnya merupakan jenis yang terseleksi sehingga tidak memiliki biji. Sementara kerabatnya yang berbiji dan dianggap setengah liar lebih dikenal sebagai “timbul” atau “kelur”. Bahasa Jawanya: keluwih. Anda sendiri mungkin pernah menyantap timbul yang telah diolah menjadi sayur lodeh, sayur asam, atau ditumis dengan cabai. Timbul yang dipetik biasanya yang masih muda, sedangkan biji timbul yang tua sering direbus, digoreng, atau disangrai untuk dijadikan makanan ringan.
Baik sukun maupun timbul memiliki nama ilmiah yang sama yaitu Artocarpus Altilis (bersinonim dengan Artocarpus Communis dan Artocarpus Camansi) dan termasuk dalam famili Moraceae. Orang Eropa menyebut sukun sebagai “buah roti” (broodvrucht dalam bahasa Belanda atau breadfruit dalam bahasa Inggris), sebab pada buah sukun terdapat bagian empuk yang mirip roti setelah dimasak.
Secara fisik, buah sukun berbentuk bulat agak lonjong dengan warna kulit buah hijau muda hingga kuning kecoklatan. Ketebalan kulitnya berkisar antara 1-2 mm. Permukaan kulit buah sukun kasar ketika muda dan menjadi halus ketika tua. Tekstur buah saat mentah keras dan menjadi lunak setelah matang. Daging buah bewarna putih, putih kekuningan, atau kuning tergantung jenisnya. Rasa buah agak manis saat mentah dan menjadi manis setelah matang dengan aroma yang spesifik. Berat buah bisa mencapai 4 kg dengan panjang tangkai buah (pedicel) berkisar antara 2,5-12,5 cm tergantung varietas.

 
Taman Nasional Kepulauan Seribu merupakan salah satu perwakilan kawasan pelestarian alam bahari di Indonesia yang terletak kurang lebih 45 km sebelah Utara Jakarta.
Terdapat 78 pulau besar-kecil dengan ketinggian tidak lebih dari tiga meter dpl., dan semuanya merupakan gugusan pulau karang.
Pada ratusan tahun yang lalu, pulau-pulau karang itu terbentuk di atas koloni binatang karang yang sudah mati. Koloni ini pada awalnya tumbuh pada dasar laut yang dangkal, dan lapisan atasnya muncul ke permukaan laut serta mengalami pelapukan. Kemudian di atas daratan karang itu, tumbuh jenis pioner berupa semak, beberapa jenis pohon dan terjadilah daratan. Daratan yang ada di pulau-pulau tersebut tidak sama dengan daratan yang terdiri dari tanah. Demikian juga dengan kekayaan tumbuhan dan satwanya.
Umumnya, tumbuhan yang terdapat di Taman Nasional Kepulauan Seribu didominasi oleh tumbuhan pantai, seperti nyamplung (Calophyllum inophyllum), waru (Hibicus tiliaceus), pandan (Pandanus sp.), cemara laut (Casuarina equisetifolia), cangkudu (Morinda citrifolia), butun (Barringtonia asiatica), bogem (Bruguiera sp.), sukun (Artocarpus altilis), ketapang (Terminalia cattapa), dan kecundang (Cerbena adollam).
Kekayaan kehidupan laut taman nasional ini terdiri dari karang keras/lunak sebanyak 54 jenis, 144 jenis ikan, 2 jenis kima, 3 kelompok ganggang seperti Rhodophyta, Chlorophyta dan Phaeophyta, 6 jenis rumput laut seperti Halodule sp., Halophila sp., dan Enhalus sp., serta 17 jenis burung pantai.
Taman Nasional Kepulauan Seribu merupakan tempat peneluran penyu sisik (Eretmochelys imbricata) dan penyu hijau (Chelonia mydas). Penyu sisik dan penyu hijau yang merupakan satwa langka dan jarang ditemukan di perairan lain terutama pantai Utara Pulau Jawa, ditangkarkan di Pulau Semak Daun.
Penangkaran tersebut dimaksudkan untuk memulihkan populasi penyu yang nyaris punah. Kegiatan penangkaran meliputi penetasan telur semi alami dan perawatan anak penyu sampai siap untuk dilepas ke alam.
Sebagian besar pantai-pantai di taman nasional ini dilindungi oleh hutan bakau, dimana hidup biawak, ular cincin emas dan piton.
Dibalik fenomena dan rahasia alam, sebenarnya gugusan Kepulauan Seribu menyimpan keindahan alam yang sangat menawan. Simponi pulau-pulau mungil yang hijau, deburan ombak, sinar matahari yang bewarna keemasan pada waktu senja; tentunya akan menentramkan hati pengunjung yang berada di Taman Nasional Kepulauan Seribu.
 
Pulau Kotok

Beberapa pulau/obyek yang menarik untuk dikunjungi:

Pulau Pramuka, Pulau Semak Daun, Pulau Kelapa dan Pulau Panggang: Melihat penangkaran penyu, pengamatan satwa dan wisata bahari.
Pulau Pramuka, Pulau Opak, Pulau Karang Congkak. Wreck diving kapal-kapal yang karam.
Pulau Panjang, Pulau Putri, Pulau Pelangi dan Pulau Perak: Wisata bahari yang dikelola oleh swasta.
Pulau Semut, Pulau Karang Congkak, Pulau Karang Kroja, Pulau Kotok Besar, Pulau Kotok Kecil dan Pulau Gosong Laga: Untuk kegiatan menyelam dan snorkeling.
Bulan November sampai dengan Februari setiap tahunnya sering terjadi ombak yang besar (berbahaya), dan cuaca tidak begitu bagus biasanya terjadi pada bulan Mei sampai dengan Agustus.
Musim kunjungan terbaik: bulan Maret s/d Mei setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi: Dari Marina Jaya Ancol setiap hari ada kapal khusus melayani pengunjung yang ingin melihat obyek-obyek wisata bahari, dengan waktu tempuh antara 1-2 jam. Atau dari Muara Angke ke Pulau Pramuka menggunakan kapal fery sekitar 2,5 jam.
  Kantor: Jl. Salemba Raya 9, Jakarta Pusat 10440
Telp. (021) 3915773; Fax. (021) 3103574
E-mail: tnlks@indo.net.id
Dinyatakan Menteri Pertanian, tahun 1982
Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No.162/Kpts-II/95
dengan luas 108.000 hektar
Ditetapkan Menteri Kehutanan, SK No. 6310/Kpts-II/2002
dengan luas 107.489 hektar
Letak Provinsi DKI Jakarta
Temperatur udara 21° - 34° C
Curah hujan Rata-rata 3.000 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 2 meter dpl
Musim Barat November - Februari
Musim Timur Mei - Agustus
Letak geografis 5°23’ - 5°40’ LS, 106°25’ - 106°37’ BT

Text Widget

Popular Posts

Recent Posts

Sample Text

Unordered List

Pulau Seribu