
Saya rasakan, dunia mancing negeri ini semakin semarak saja. Penyebabnya
bukan karena komunitas mancing yang terus bertambah banyak di berbagai
daerah, bukan pula karena semakin banyaknya member klub-klub mancing
yang jumlahnya saya rasakan semakin banyak saja (bagaimana tidak pesat
pertumbuhan klub-klub ini, kini satu kantor pun sudah membuat klub
mancing sendiri), bukan pula karena begitu banyaknya turnamen mancing
yang akhir-akhir ini digelar di berbagai daerah di Indonesia. Hal-hal
barusan memang jelas pasti akan membuat dunia mancing di negeri ini
semarak, tetapi ada hal yang lebih membuat semarak. Yakni kehadiran
pemancing-pemancing baru dari kalangan perempuan! Jadi siapapun yang
mengira bahwa urusan memegang joran (baca: mancing) hanyalah urusan kaum
pria saja, kini harus merevisi pendapatnya tersebut karena nyatanya
para cewek kini pun tak segan turun ke laut dan rela terpanggang
‘nakal’nya sinar matahari demi mendapatkan sambaran ikan. Mereka juag
beranggapan bahwa memancing adalah olahraga yang cool seperti aktivitas
bahari lainnya semisal snorkling dan ataupun diving. Bukankah ini
perkembangan yang sangat menarik?!

Saat mengadakan trip
mancing dasar ke Kepulauan Seribu di kawasan Teluk Jakarta bersama
kawan-kawan pemancing para alumni AMI Jakarta, di antara mereka ternyata
adalah para pemancing perempuan. Tak tanggung-tanggung ada tiga
pemancing perempuan sekaligus meski satu di antara mereka kurang tahan
laut alias mabuk terus selama trip yang berlangsung dua hari tersebut.
Saya tak menyangka dua di antara tiga perempuan itu ternyata sangat
tahan gempuran ombak laut, padahal kemarin itu di Kepulauan Seribu
sedang ganas-ganasnya angin Barat. Ombak besar sekali. Tetapi meski
selama dua hari digempur ombak terus, dua perempuan tersebut (yang kalau
tidak salah bernama Icha dan Reny – perempuan ketiga saya lupa namanya)
malah sangat menikmati suasana yang ada. Memang mereka bukanlah
pemancing serius, dalam artian sepanjang waktu terus memancing dan atau
membahas ikan-ikan. Mereka adalah tipikal pemancing pemula yang
memancing seperlunya saja. Tidak harus menguasai A-Z tentang mancing.
Dan tidak harus terus-terusan memancing. Saat ke laut pun tidak harus
selama 24 jam terus memancing, mereka lebih suka membagi waktu yang ada
antara memancing dan melakukan aktivitas lain untuk menikmati keindahan
laut.
Yang dilakukan alumni-alumni AMI Jakarta ini, yakni
mengajak kawan-kawan perempuan mereka pergi mancing, agaknya pantas
ditiru oleh pemancing-pemancing lain. Selama ini banyak pemancinng yang
pergi mancing hanya dengan kawan-kawan pria dan atau sendiri saja, tanpa
melibatkan teman-teman perempuan ataupun istri-istri mereka. Memang ada
kalangan perempuan yang anti dengan laut karena mereka beranggapan ke
laut itu hanya akan membuat kulit hitam dan membuat jatuh ‘pasaran’.
Tetapi saya yakin banyak sekali kawan-kawan perempuan kita (dan atau
istri dan pacar kita) yang sangat ingin ikut kita memancing ke laut.
Kita mungkin selama ini menganggap bahwa mereka tidak akan bisa
menikmati keasyikan mancing di laut jadi mereka tidak perlu diajak.
Bukankah belum tentu?! Perempuan juga pasti banyak yang memiliki minat
dengan laut. Memang tidak banyak perempuan yang fanatik dengan olahraga
mancing. Tetapi saya yakin banyak sekali perempuan yang ingin ikut serta
mancing ke laut sebagai bagian untuk melepaskan stress dan atau mencoba
pengalaman baru.
Kembali ke Reny Renata dan Icha. Pada akhirnya
mereka kurang beruntung dalam trip tersebut, tepatnya kami semua kurang
beruntung, karena angin barat semakin berhembus kencang yang membuat
ombak meledak di seluruh penjuru Kepulauan Seribu. Melalui Blackberry
seorang kawan kami juga memantau bahwa angin barat hari itu memang
berpotensi bahaya karena kami membaca di Detik sebuah kapal fery di
Batam karam dan menelan banyak sekali korban. Karena bahaya mengintip
dan mancing pun menjadi tidak maksimal, usai berhasil menaikkan sekitar
selusin kakap merah (red snapper) di rumpon pemilik kapal, kami bergeser
ke keramba bandeng di Pulau Pramuka. Jaraknya sekitar 2 jam perjalanan
dengan kecepatan 9-an knot dari rumpon kakap merah. Tempat ini juga
pernah dijadikan shooting Mancing Mania pada beberapa waktu lalu saat
membuat episode bandeng dan baronang. Dan keceriaan kembali ‘meledak’.
Pemancing-pemancing peremuan ini langsung strike bandeng-bandeng
‘monster’ yang ukurannya berkisar antara 3 hingga 5.5 kg. Kami, para kru
yang mengambil gambar hanya bisa memendam hasrat karena tidak bisa ikut
mancing. Tetapi tidak masalah, lebih baik bertambah 3 atau 10 pemancing
baru daripada kami selalu ikut mancing yang bisa menghalangi proses
penyebaran ‘racun’ mancing ini.

Semakin
banyaknya perempuan yang tertarik dengan olahraga memancing, harus
dilihat sebagai peluang yang menarik. Bukan untuk melakukan hal yang
aneh, melainkan untuk menularkan hobi yang mengasyikan ini ke kalangan
lain agar mancing ini tidak jadi dianggap olahraga kalangan tertentu.
Sebab jika mancing selalu dianggap sebagai olahraga kalangan tertentu
(pria saja dan itupun yang kaya-kaya saja), saya yakin akan ada titik
dimana olahraga mancing ini meredup dan ‘tidak laku’ lagi. Menularkan
olahraga mancing ke perempuan dan termasuk ke anak-anak adalah cara jitu
untuk membuat olahraga ini menjadi bagian wajar kehidupan keluarga.
Jadi laut, danau, dan sungai di masa mendatang tidak hanya riuh rendah
oleh kelakar para pria tetapi juga akan ramai oleh pekik riang para
perempuan pemancing saat menaikkan ikan. Jadi, mari kita sebarkan
olahraga mancing ini ke kawan-kawan perempuan kita baik itu saudara
ataupun sahabat, agar laut tidak melulu hanya biru tetapi juga pink.
Maksud saya, karena saya yakin setomboi apapun perempuan itu, meski
sedikit apapun itu setidaknya dia akan berdandan sebelum berangkat
mancing. Memoles bibir dengan lipstik tipis ataupun bedak halus. Ini
akan menjadi pelajaran bagus bagi para pemancing pria yang berangkat
mancing hanya dengan celana pendek dan kaos oblong sekedarnya plus tidak
mandi pula! Hahahaha!
* Para lady anglers yang ada dalam
postingan ini adalah Icha dan Reny, pemancing perempuan yang merupakan
kawan dari para pemancing alumni AMI Jakarta. All pics taken by Bayu
Sanduaji, salah satu kawan kami dalam trip ke Kepulauan Seribu tersebut.