Ceria…Ngetrip ke Pulau Bira
Terbayar sudah dua jam perjalanan dari Muara Angke --yang becek dan bau itu-- begitu “Raja Ekspress”, kapal kayu yang membawa sekitar 200 orang ini, bersandar di Pulau Pramuka. Kapal kayu ini merupakan transportasi umum yang digunakan masyarakat yang akan mengunjungi pulau-pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta ataupun sebaliknya. Kepulauan Seribu  merupakan gugusan lebih dari 300 pulau yang berada di Teluk Jakarta.

Dermaga dengan air laut jernih, kolam ikan hiu dan bandeng yang dangkal, sejenak memanjakan mata kami. Pulau Pramuka, merupakan pulau persinggahan bagi kami yang akan menuju Pulau Bira Besar. Tidak ada kapal dari Pelabuhan Muara Angke yang langsung ke Pulau Bira Besar. Beberapa tahun lalu, ada kapal cepat yang bisa mengantarkan langsung ke Pulau Bira karena dahulunya pulau ini merupakan pulau resort yang dikelola dengan baik, sebelum akhirnya ditutup oleh pengelolalanya.

Usai santap siang dan berganti pakaian kami siap untuk snorkeling. Perahu kayu milik nelayan sudah kami sewa untuk mengantarkan kami snorkeling ke beberapa spot terumbu karang dan ke beberapa pulau tak berpenghuni. Kami memang berencana check in penginapan di Bira pada sore hari.

Spot pertama yang kami datangi adalah Pulau Air. Pulau pribadi ini memiliki pantai yang bersih, dan pasti terumbu karang yang sehat serta ikan yang beraneka ragam. Bagi teman-teman yang belum pernah melakukan snorkeling, atau bahkan tidak bisa berenang, di sinilah pemandu kami  akan memberikan pelatihan singkat dan ringan mengenai snorkeling. Rasa khawatir dan takut akan segera lenyap megitu menyaksikan kenekaragaman biota laut di sana.

Lanjut ke spot kedua, kami snorkeling di Pulau Macan. Terumbu karang di pulau ini juga tak kalah cantiknya. Pulau Macan sebenarnya juga disewakan dan kita bisa menginap disana, namun karena ini Pulau pribadi, harga sewanya menjadi sangat tinggi dan tidak sesuai dengan kantong kami yang ‘backpacker-an’.

Semua teman-teman, baik yang sudah pernah snorkeling sebelumnya maupun belum sama sekali, terlihat menyatu. Beberapa kamera underwater mengabadikan kegitan yang menyenangkan ini. Setiap peserta trip diberikan kesempatan untuk bergaya di bawah air dan diabadikan dengan kamera. Pemandu kami memberikan trik-trik  agar bergaya di bawah air menjadi lebih mudah dan terlihat natural.


Tiba di Pulau Bira


Menjelang pukul 17.30 kami tiba di Pulau Bira. Dermaga dengan air laut sebening kaca menyapa kami dan memaksa kami untuk leyeh-leyeh sejenak di dermaga sambil menunggu sunset. Serunya, di Pulau Bira ini, untuk melihat sunset dan sunrise, bisa dari tempat yang sama.

Beberapa teman memilih untuk langsung check in di penginapan dan hunting sunset dari depan penginapan. Penginapan yang persis di depan pantai memang menjadi tempat yang strategis untuk hunting foto. Beruntungnya kami, sunset saat itu tampil dengan sempurna, memendarkan warna jingga di langit barat dan membentuk garis bayangan vertikal yang terpantul dari air laut.

Semuanya makin sempurna saat kami, 18 orang yang tidak saling kenal, menyatu dalam keriaan. Kepiting bulan dalam menu BBQ kami menambah keseruan saat kami harus bekerjasama untuk memecah cangkangnya dan menikmati daging legitnya. Hari pertama, terlewati dengan ceria.

Hari kedua, pukul 05.00 pagi kami serentak bangun untuk hunting sunrise dan berkeliling Pulau Bira. Pulau yang mempunyai luas  14 ha ini dahulu adalah sebuah resort yang mempunyai lapangan golf 9 holes. Kini lapangan golf tersebut telah tertutup ilalang dan tidak terlihat lagi, begitu pula dengan kolam renangnya, terlihat sama sekali tidak terawat.

Ada sekitar 20 cottage di sana. Namun semenjak tahun 2005, resort ini ditutup. Penjaga pulau memanfaatkan 8 cottage untuk disewakan kepada umum, karena kondisi bangunan dan furniture masih layak untuk disewakan.

Setelah jepret sana jepret sini dan mengelilingi Pulau Bira, kami bersiap kembali untuk snorkeling. Dan spot kami dihari terakhir ini adalah Pulau Kayu Angin. Meskipun banyak bulu babi, namun terumbu karang di pulau ini lebih beragam. Banyak sekali soft coral yang berwarna-warni.

Pulau kosong ini juga mempunyai pantai landai dengan pasir yang putih, bersih, dan halus. Tiba di sini kami tak ada niat untuk hopping island lagi. Kami manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk membuat foto terbaik sebelum ada panggilan untuk kembali ke Jakarta. Pulau Kayu Angin, menjadi penutup trip yang super ceria ini.


Sumber : republika.co.id 


 

Text Widget

Popular Posts

Recent Posts

Sample Text

Unordered List

Pulau Seribu