
Terumbu
karang merupakan salah satu potensi sumber daya laut yang sangat
penting di Indonesia. Sumber daya terumbu karang merupakan salah satu
sumber pendapatan utama dan bagian dari hidup nelayan. Terumbu karang
juga mempunyai nilai estetika sangat tinggi yang dapat dimanfaatkan
sebagai objek wisata yang dapat meningkatkan devisa negara. Secara fisik
karang melindungl pantal dari degradasi dan abrasi.
Di
samping itu terumbu karang mempunyai fungsi yang sangat penting sebagai
tempat memijah, mencari makanan, daerah asuhan dari berbagai biota laut
dan sebagai sumber plasma nutfah serta merupakan sumber berbagai
makanan dan bahan baku substansi bioaktif yang berguna dalam bidang
farmasi dan kedokteran.
Fungsi
terumbu karang yang tidak kalah pentingnya adalah sebagai sarana
pendidikan dan penelitian, karena itu dilihat dari nilai pentingnya
terumbu karang tersebut, maka perlu adanya konservasi dan pengelolaan
untuk menjaga dan memelihara ekosistem tersebut dan habitat yang
berasosiasi di sekitarnya agar berada dalam kondisi yang baik.
Pengelolaan
terumbu karang secara lestari dan berkembang sangat penting, artinya
ekosistem terumbu karang yang sangat produktif dapat mendukung kehidupan
nelayan setempat.
Jika
habitat terumbu karang tidak diusik maka fungsinya akan optimal dan
produksi ikan karang akan dapat dipanen secara berkesinambungan dan
memberi keuntungan secara sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat di
seluruh Indonesia untuk masa kini dan masa yang akan datang sejalan
pembangunan nasional.
Terumbu
karang merupakan ekosistem yang sangat kompleks dan produktif dengan
tujuan dengan keanekaragaman jenis biota sangat tinggi. Indonesia
merupakan pusat sebaran dari jenis karang yang ada di dunia. Variasi
bentuk pertumbuhan karang di Indonesia sangat kompleks dan luas,
sehingga dapat dipakai sebagai tempat tumbuh bagi biota yang lain.
Karang membentuk kerangka kapur yang terdiri dari CaC03 dan di dalam
polyp karang terdapat zooxanthella yang merupakan symbion karang.
Zooxanthelia ini berupa algae bersel satu yang membantu dalam
pembentukan kerangka kapur.
Pembentukan
kapur ini sangat penting artinya dalam mengurangi jumlah karbon yang
ada di udara. Karbon yang ada di udara akan diubah menjadi CaC03. Para
pakar telah menghitung kemampuan karang mengambil karbon yaitu 111 juta
ton/tahun yang ekivalen dengan 2 % dari seluruh karbon yang ada.
Diramalkan
bahwa pada 50-100 tahun yang akan datang karang dapat menyerap 4 % dari
jumlah karbon (C02) yang dilepas di udara, itu jika kondisi terumbu
karang di dunia tidak mengalami kerusakan.
Secara
umum terumbu karang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis, oleh
karena itu karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan
baik seperti air yang jernih, dengan suhu antara 23-32 derajat celcius,
dengan kedalaman karang dari 40 m. Salinitas yang optimum untuk
pertumbuhan karang antara 32 - 36 % dengan pH 7,5 - 8,5.
Terumbu
karang di Indonesia yang umum dijumpai adalah karang tepi (Fringing
Reef), karang penghalang (Barrier Reef) dan karang cincin (Atoll).
Karang tepi merupakan tipe karang yang paling umum dijumpai dan
merupakan terumbu karang yang tumbuh di tepi pantai. Karang penghalang
tumbuh sejajar dengan garis pantai dan dipisahkan oleh laut yang cukup
dalam. Karang cincin merupakan tipe karang yang menyerupai cincin dengan
goa di tengahnya.
Pemanfaatan
terumbu karang yang kurang bijaksana dapat berakibat menurunnya
kualitas terumbu karang. Kegiatan yang bersifat merusak antara lain
penambangan karang untuk batu gamping dan bahan bangunan, penangkapan
ikan dengan muroami, dan penggunaan bahan peledak, serta koleksi biota
laut untuk hiasan dan penangkapan illo \"hib\" dengan kalium sianida
(KCN).
Terumbu karang sangat
sensitif terhadap pengaruh lingkungan baik yang bersifat fisik maupun
kimia. Pengaruh itu dapat mengubah komunitas karang dan menghambat
perkembangan terumbu karang secara keseluruhan. Kerusakan terumbu karang
pada dasarnya dapat disebabkan oleh faktor fisik, biologi dan karena
aktivitas manusia. Faktor fisik umumnya bersifat alami seperti perubahan
suhu, dan adanya badai.
Faktor
biologis seperti adanya pemangsaan oleh biota yang berasosiasi dengan
terumbu karang seperti Bulu Seribu (Acanthaster olanci), sedangkan
aktivitas manusia dapat berupa sedimentasi yang berasal dari penebangan
hutan, penambangan karang, penangkapan berlebihan, pembangunan
fasilitas, limbah industri, buangan kota dan rumah tangga, dan buangan
minyak.
Mengkhawatirkan
Kondisi
karang di Indonesia pada saat ini adalah 4% dalam kondisi kritis, 46%
telah mengalami kerusakan, 33% kondisinya masih bagus dan kira-kira
hanya 7 % yang kondisinya sangat bagus. Bertambahnya berbagai aktivitas
manusia yarng berorientasi di daerah terumbu karang akan menambah
tekanan dan sebagai dampaknya adalah turunnya kualitas terumbu karang.
Jika kegiatan yang berhubungan dengan terumbu karang tidak segera
dilakukan dengan baik maka persentase terumbu karang dengan kriteria
kritis akan bertambah dengan cepat.
Pada
saat ini pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah dan pihak swasta
serta masyarakat masih sedikit sekali perhatiannya terhadap ekosistem
terumbu karang dan habitat sekitar yang berasosiasi dengannya. Oleh
karena itu pada saat ini dari segi pendidikan yang berwawasan lingkungan
pada umumnya dan ekosistem terumbu karang pada khususnya perlu
ditingkatkan. Program latihan dan pendidikan baik formal dan non formal
perlu dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan
pemanfaatan masyarakat dalam pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya
terumbu karang.
Konservasi
dan pengelolaan ekosistem terumbu karang perlu segera dilakukan karena
pada dewasa ini tekanan semakin bertambah besar dengan meningkatnya
aktivitas pembangunan di wilayah pesisir. Terumbu karang di wilayah
Timur Indonesia menjanjikan kesempatan untuk pengembangan wisata bahari.
Tetapi perlu diingat bahwa sukses masa sekarang dalam memanfaatkan
sumber daya karang dan kelangsungan hidup komunitas daerah pesisir dan
usaha komersial yang berhubungan dengan terumbu karang akan tergantung
dari kelangsungan hidup terumbu karang itu sendiri.
Melihat
hal-hal tersebut serta besarnya peran terumbu karang, sebagai penyokong
bagi biodiversity kelautan, maka membuat beberapa negara di dunia ini
telah sepakat untuk berupaya terus melestarikan keseimbangan ekosistem
karang. Sehingga ekosistem terumbu karang sebagai bagian penting dalam
pengelolaan lingkungan hidup melalui pengembangan paradigma, etika dan
perilaku kehidupan individu, keluarga, masyarakat, berbangsa dan
bernegara, memiliki spirit yang handal untuk berkerjasama dengan
berbagai pihak dalam mengelola ekosistem terumbu karang secara sistemik
dan holistik, melampaui batas negara, suku, kelompok, agama, ras, dan
sektor pembangunan memiliki kehandalan dalam penetapan hukum dan
sosialisasi penaatan hukum di bidang lingkungan.
Belum Sadar
Berbagai
praktek pemanfaatan sumber daya alam yang hanya memperhatikan
keuntungan jangka pendek, seperti penangkapan ikan dengan bahan peledak
dan beracun, penangkapan yang berlebihan, kegiatan wisata yang merusak,
kegiatan pembangunan baik di darat maupun di laut yang tidak
memperhatikan kelestarian ekosistem ini, serta terjadinya konflik
penggunaan di dalam pemanfaatannya memperlihatkan masih rendahnya
kesadaran masyarakat mengenai manfaat ekosistem ini.
Rendahnya
kesadaran masyarakat akan berakibat rendahnya peran serta dari
masyarakat dalam upaya pengelolaannya hal ini tercermin tidak adanya
swakarsa masyarakat setempat, misalnya untuk menentukan daerah reservat
perikanan yang dilindungi agar menjadi sumber bibit bagi lingkungan
sekitarnya.
Terjadinya
konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber daya terumbu karang selain
mencerminkan pemikiran yang bersifat sektoral, juga kurangnya kesadaran
dan pengetahuan mengenai manfaat dan fungsi terumbu karang dari para
pengambil keputusan.
Kegiatan
di darat dan di laut yang tidak memperhatikan kelestarian ekosistem ini
mencerminkan juga kekurangtahuan masyarakat (pengambil keputusan dan
pengusaha) akan hubungan kait mengait antar ekosistem. Pengusaha
pariwisata dan wisatawan juga karang menyadari manfaat dan fungsi
terumbu karang.
Pembangunan
fisik fasilitas wisata bahari serta kegiatan wisatawan seringkali jarang
memperhatikan kelestarian terumbu karang yang justru merupakan aset
utama kegiatan tersebut.
Harus Tegas
Masyarakat
setempat memegang peran penting di dalam kegiatan konservasi dan
pengelolaan kawasan terumbu karang. Mereka hidup di atau dekat dengan
kawasan terumbu karang dan mata pencahariannya sebagian besar tergantung
pada sumber daya di sekitarnya. Pemanfaatan sumber daya terumbu karang
dengan cara yang dapat membahayakan ekosistem terumbu karang akan
merugikan masyarakat setempat.
Penegakan
hukum secara tegas harus diterapkan terhadap perusak terumbu karang.
Dengan memperhatikan hal-hal di atas jelas diperlukan usaha penangkapan
kesadaran dan peran serta masyarakat penguna dan pemanfaat ekosistem
terumbu karang. Hal serupa tidak kalah pentingnya dilakukan terhadap
para pengambil keputusan.
Kawasan Konservasi Terumbu Karang
Secara
umum, konservasi ekosistem terumbu karang di Indonesia telah dijalankan
melalui upayaupaya pengembangan kawasan konservasi laut, antara lain
melalui penunjukan penetapan kawasan suaka alam (Cagar Alam Laut dan
Suaka Margasatwa Laut) dan kawasan pelestarian alam (Taman Nasional Laut
dan Taman Wisata Alam Laut).
Kawasan
Suaka Alam mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan
keanekaragaman jenis karang dan satwa beserta ekosistemnya, serta
sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Di dalam
Kawasan Suaka Alam ini dapat dilakukan kegiatan pengembangan ilmu
pengetahuan, pendidikan yang menunjang, khusus untuk Suaka Margasatwa
dan dapat pula dilakukan kegiatan wisata terbatas.
Kawasan
Pelestarian Alam mempunyai fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga
kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta
pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Di
dalam Kawasan Pelestarian Alam ini dapat dilakukan kegiatan untuk
kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, wisata alam dan
kegiatan lain yang menunjang budidaya. Melalui program pengembangan
kawasan konservasi laut di Indonesia, pemerintah telah mencanangkan
seluas 30 juta hektar perairan laut Indonesia sebagai kawasan konservasi
laut yang kemudian dikelola sesuai dengan masing-masing fungsi kawasan
yang telah ditetapkan tersebut!
Dengan
adanya penetapan seluas tersebut, diharapkan telah dapat mewakili semua
sumber daya alam laut dan tipe ekosistem yang ada di seluruh Indonesia.
Sumber : cintaterumbukarang